separate
Media pencatat langkah kecilnya yang penuh kelucuan, keluguan, inovatif, kreatif dan segala tingkah usil dan kebandelannya
logo
Budhi Insan

Sebuah Perubahan Baru

Lama tidak update blog ini dan lama juga tidak merekam jejak si Devon. Banyak cerita yang terlewatkan banyak kisah yang terabaikan. Diposting terakhir kutulis tentang kegamangan dan kegelisahan Devon saat menjelang Unas demi menggapai keinginannya bisa masuk ke SMKN. Untuk merefresh bisa dilihat DISINI

Alhamdulillah dengan perjuangan keras serta doa akhirnya Devon bisa diterima disekolah yang diinginkan dan memilih jurusan listrik. Di sekolahnya yang baru Devon tumbuh menjadi remaja yang mandiri banyak perubahan yang terjadi, kini dia bukan lagi pribadi yang selalu berada dibelakang layar tapi dia sudah belajar menjadi leader dengan menerima amanah sebagai ketua kelas. Bukan itu saja dia juga ditunjuk sekolah menjadi IT (Information and Technology) yang bertanggung jawab atas segala perangkat kompi, lappy, inet dan lainnya. Bahkan dia sudah dipercaya untuk menentukan hardware dan software yang diperlukan disekolah.


Devonpun sudah bukan lagi anak-anak yang kemana-mana minta diantarkan, dia sudah berangkat sekolah sendiri dengan motor baru hadiah ortu atas hasil kerja kerasnya hingga mendapat hasil ujian dan kelulusan dengan nilai yang boleh dibilang cukup bagus. Setengah enam pagi dia sudah berangkat dan setengah tiga atau jam tiga baru pulang. Cukup padat aktifitas disekolah tapi alhamdulillah dia makin semangat menjalani hari-harinya bahkan dia sudah mencanangkan target baru untuk bisa masuk di ITS (Institut Teknologi Surabaya) hingga minimal bisa melanjutkan sampai S2. Barakallah ya nak, semoga Allah memudahkan jalanmu.

Suatu hari dia ketika aku pulang kantor dia lagi asyik otak-atik lapstop dengan satu set modem baru. "Ini lappy siapa", tanyaku dalam hati seraya menaruh tas diruang kerjaku. setelah kutanyakan ternyata Dev diberi tugas kepala sekolah untuk membetulkan dan menginstall ulang empat lapstop sekolah, yang tiga sudah selesai disekolah yang satu dibawa pulang karena waktunya udah tidak keburu. Kemudian dengan raut wajah berbinar-binar Dev menunjukkan beberapa lembar uang yang katanya pemberian dari kepala sekolah sebagai jasa dan rasa terimakasihnya.

Aku hanya bisa bersyukur hasil kerjanya dihargai tapi sebagai ortu tetap menasihatinya jangan terlalu mengkomersialkan ilmu, ada saatnya harus berbagi ilmu apalagi itu digunakan untuk kepentingan bersama. Kepada Dev aku wanti-wanti selagi masih menjadi siswa jangan pernah minta uang jasa apalagi memasang harga untuk kepentingan bersama disekolah. Devon menganggukkan kepala seraya berucap "Tadi Devon sudah menolaknya tapi pak guru tetap memberikannya, katanya ini rezeki yang tidak boleh ditolak". Aku manggut-manggut terharu sembari memohon pada Sang Robb semoga tetap bisa menjaga hati anakku. Aamiin.

Bersambung...


Budhi Insan

Kegamangan

Devon Sekarang sudah kelas IX (Kelas III SMP) seperti pada umumnya anak-anak yang duduk dikelas III, sering terjadi ketegangan dalam dirinya. Itu suatu hal yang wajar karena Dev tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi Unas yang akan menentukan nilai NEM kelulusannya nanti.

Sebenarnya yang membuat Dev tegang bukan masalah unasnya tetapi setelah melihat di web-nya SMKN yang menjadi impiannya, di web itu terpampang prasyarat nilai yang lumayan tinggi untuk bisa masuk di sekolah itu. Jurusan yang dipilih Dev adalah jurusan listrik sedangkan target NEM untuk bisa terjaring minimal nilainya 36, jika dibagi empat mata pelajaran berarti minimal nilai masing-masing pelajaran harus pada nilai 9. Memang tidak mudah itulah yang kadang membuat Dev gamang. Maklumlah namanya anak-anak masih labil emosi.

Berkali-kali Dev bertanya padaku "Pa, kira-kira Devon bisa tidak ya masuk SMKN?, pertanyaan itu berulang-ulang dilontarkan kepadaku seperti mengisyaratkan ada ketegangannya dan ketidak pedeannya. Sebagai orang tua hanya bisa mengelus rambutnya sembari menyemangatinya. Tugas Devon berdoa dan belajar seoptimal mungkin, insya Allah nanti akan dberi kemudahan dan dibantu oleh Allah.

Pa, bagaimana cara Allah membantu ujian Devon?" tanya Dev mulai kritis
"Hmmm.., banyak caranya.., misalkan Dev diberi kesehatan yang baik, dengan badan sehat maka bisa belajar dengan baik, juga diberi ketajaman daya ingat sehingga mudah mengingat yang diajarkan guru dan hasil belajarnya, ada juga melalui rezeki, dengan rezeki uang maka Dev bisa beli buku-buku penunjang belajar dan banyak lagi.."

Alhamdulillah sedikit jawaban bisa melegakan dan membangkitkan semangat belajarnya. Mungkin Sahabat-sahabat yang membaca tulisan ini pernah mengalami masa-masa dimana putra-putrinya atau adik-adiknya yang mengalami ketegangan yang berdampak krisis percaya diri terhadap anak. Jika tidak keberatan, boleh dong dishare dikolom komentar, insya Allah akan bermanfaat bagi Devon dan teman-teman lainnya.

Salam Kreatif...

Budhi Insan

Job Pertama

Sepulang dari kantor Devon menyambutku dengan wajah ceria dan mata yang berbinar-binar sembari menunjukkan lembaran warna biru lima puluh ribuan, dia berkata "lihat pa, Devon bisa cari uang sendiri" Dev bercerita dengan senangnya seperti tidak ingin berhenti. Ini pengalaman pertama mendapat job kerja diluar rumah.

Ceritanya begini siang itu ada salah satu tetangga beda gang yang komputernya lagi error, dia menelponku meminta referensi orang yang bisa service kompinya, kuberikan nomor telpon teman namanya Yan, dia memang jago software dan hardware. Singkat cerita setelah janjian akhirnya siang itu Yan datang untuk ngecek kompi tetangga. Karena berdasarkan analisa kerusakannya tidak terlalu parah maka Yan mereferensikan Dev untuk membantu betulin kompi.


Ponselku berdering, Yan meminta izin padaku hendak mengajak Dev ikut membantunya service kompi, ternyata selain kompi ada Lappi yang juga minta di upgrade. Untuk kompi bisa dikerjain Dev sedang untuk Lappi harus Yan sendiri yang pegang. Tadinya aku tidak yakin Dev bisa membantunya walau aku tahu Dev sering bongkar-bongkar CPU tetapi setelah Yan meyakinkanku, yah apa boleh buat, aku mengizinkan juga dengan berpesan agar tetap diawasi, mengingat ini pertama kalinya Dev mengotak-atik kompi orang.

Alhamdulillah ternyata dengan sigap Dev berhasil membuat kompi nyala kembali, bisa dibayangkan betapa lega dan gembiranya hati Dev apalagi setelah hasil kerjanya diapresiasi dengan lembaran lima puluh ribuan. Tetapi sebenarnya bukan masalah besaran uangnya yang menjadi fokus utamaku melainkan untuk melatih mental anak agar berani dan terbiasa menghadapi tekanan dan kesulitan diluar rumah. Dan ternyata Dev sudah mampu melakukan itu walau masih tetap dalam pengawasan Yan.

Terkadang anak memang harus diberi kesempatan untuk mengekpresikan dan mengeksplore kemampuannya, Terimakasih untuk temanku Yan yang telah memberi kesempatan dan kepercayaan kepada Dev mengekplore kemampuannya yang masih sangat sedikit. Semoga kejadian ini makin meningkatkan semangat dan kepercayaan diri Dev..

Salam Kreatif..



   
Budhi Insan

Masa Transisinya

Rasanya seperti baru kemarin aku menimangmu, menggendongmu dan mengajarimu berjalan. Waktu begitu cepat berjalan tak terasa kini dirimu sudah menjadi sosok remaja yang gagah.

Hari ini,  15 Agustus 2013 dirimu telah menginjakkan kaki di era usia yang keempat belas, bukan masa yang mudah menjalani kehidupan dimasa transisi antara anak-anak menuju dewasa. Masa transisi adalah masa-masa yang sangat sulit bagi dirimu. Dengan jiwa bergejolak mencari identitas diri diantara emosi yang masih labil.

Tapi Ayahmu percaya dirimu mampu mengatasi gejolak hati dan jiwa untuk tetap berjalan di jalan yang lurus tidak tergoda dengan gemerlapnya keindahan dunia. Dan tetap berkarya untuk kemaslahatan manusia. Aamiin..





Happy Milaad Devon...





Budhi Insan

Lebaran Ceria

Mungkin yang paling menunggu datangnya lebaran adalah putra-putri kita. Lebaran selalu bermakna ganda bagi mereka seperti halnya juga bagi Devon. Alhamdulillah Tahun ini Devon puasanya full sebulan penuh, tahun kemaren sempat bolong dua hari karena sakit flu. Dua hari menjelang Ramadhan Dev sempat kena alergi kulit yang cukup lumayan hingga membawanya periksa ke Dokter dan harus minum obat secara rutin 3X sehari.

Devon sempat cemas, tapi Alhamdulillah setelah kami beri semangat bahwa puasa insya Allah akan mempercepat kesembuhan penyakit bukan menambah penyakit asalkan dijalaankan dengan benar dan ikhlas. Alhamdulillah semuanya akhirnya berjalan lancar. Memang benar dengan puasa Allah memberikan kesembuhan alerginya hingga bisa full berpuasa.

Lebaranpun tiba, lebaran selalu memberi keceriaan baginya, selain berhasil mejalani puasa sebulan full, keceriaannya bertambah dengan berkumpulnya saudara-saudara sepupunya yang hanya bisa bertemu setahun sekali saat lebaran tiba. Dan satu lagi yang membuat Devon semakin berbinar-binar adalah angpau yang dia terima dari Om dan tante-nya juga dari kakak-kakaknya, Waauu senangnya.







Tapi sesungguhnya momen bisa bertemu keluarga itu sangat penting, selain bisa saling bermaafan dan yang lebih penting tali silaturahmi bisa tetap terjaga. Anak-anak harus dikenalkan dengan sanak famili lain agar tetap tercipta kebersamaan dan keakraban antara mereka hingga dewasa kelak. Biarkan mereka menggoreskan kenangannya dengan caranya sendiri dan dibingkai dalam memori hatinya agar kelak jadi pengingat dan bahan cerita bagi anak cucunya.

Buat Om, Tante, kakak dan adik-adik semua, Devon juga ikut mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H". Mohon dimaafkan segala salah dan khilaf dan jangan lupa ikut membantu doa agar Devon bisa lancar dalam menjalani proses belajarnya di kelas 9.  Terima kasih.



Budhi Insan

Ingin Jadi Photographer

Beberapa hari lalu Devon merajuk minta dibelikan kamera sebagai hadiah kenaikan kelas, entah ada angin apa tiba-tiba dia tertarik pada dunia photography. Tapi aku tidak yakin jika Dev benar-benar mulai suka photography. Sebagai ayahnya aku tahu persis perkembangan kesukaan dan kemauannya. Jangan-jangan karena melihat teman-temannya jeprat-jepret dengan kamera membuatnya ingin mencoba.


Kuajak Dev jalan ke Hartono Elektronik tempat yang terdekat dari rumah. Kubiarkan dev melihat-lihat kamera dengan segala macam type, merek dan dengan harga yang bervariasi. Setelah lihat sana-sini dia memilih kamera DLSR dengan harga rata-rata diatas empat jutaan. Hmm... harga yang cukup membuatku mengernyitkan dahi, empat juta bukan nominal yang kecil bagiku.

Setelah melihat-lihat kuajak Devon duduk dikursi yang tempatnya agak diujung. Kutanyakan tentang tujuannya membeli kamera. Setelah bicara dari hati kehati ternyata benar dugaanku Dev hanya ingin sekedar jeprat-jepret seperti teman-temannya. Aduh nak bukannya papa pelit tidak mau belikan kamera tapi kalau sekedar untuk iseng-isengan rasanya sayang banget.

Dev memang anak satu-satunya tapi bukan berarti harus menuruti apa keinginannya. Sebagai orang tua harus mempertimbangkan baik buruk dampak bagi si anak. Jangan sampai nantinya Dev menjadi anak yang konsumtif dan tidak menghargai susahnya mencari uang. Selama ini aku memang hampir selalu menuruti permintaan Dev tapi yang berhubungan elektro dan listrik karena aku tahu persis minat dan bakatnya ada disitu dan memang layak untuk disuport.

Seperti biasanya selalu kuberi tantangan pada Dev. Kalau memang serius dan bisa menjadi photograper profesional papa tidak keberatan membelikan kamera itu sekalian lensa dan sarana pendukung lain tapi bila sekedar main-main mendingan lupakan saja, toh masih bisa jeprat-jepret dengan kamera blackberry. Dev diam, cukup lama dia berpikir, aku yakin dia tidak akan mengambil tantangan tersebut, karena aku tahu obsesi dan cita-citanya dari kecil bukan sebagai photographer tapi pada bidang electric dan electronic.

Tanpa memberi jawaban Dev langsung mengajak pulang dan dengan legowo dia melupakan keinginannya untuk memiliki kamera itu. Tapi tetap aja Dev tidak mau rugi sambil beranjak pulang masih minta dibelikan tang crimping, tahu kan tang crimping? itu loh alat untuk memotong kabel dan untuk memasang konektor ke kabel lan. 
Tang Crimping

Alhamdulillah akhirnya kami bisa menerima kesepakatan tanpa merasa ada ganjalan dihati.  Sebagai orang tua aku hanya bisa mengarahkan dan mensuport tanpa merasa mendikte. Anak tidak perlu dicegah dengan cara yang membabi buta cukup diajak berpikir dan diberi sedikit tantangan agar tahu seberapa keseriusannya.

Salam kreatif

Budhi Insan

Sudah Bisa Jalan Lagi

Tadinya tulisan ini mau diikutkan di GA yang temanya tentang kelucuan anak-anak balita, tapi berhubung sudah kepancal sepur, ya sudah di posting aja, sekalian update blog Media Indara 


Dari kecil Devon memang doyan makan dan Alhamdulillah hampir tidak pernah rewel kalau urusan makan. Tapi yang ingin aku ceritakan disini bukan tentang kedoyanan makannya tapi tentang kelucuan dan keusilan Dev tapi ada juga sedikit ada hubungannya sama makan.

Sore hari Dev minta dibuatkan mie instan sama mamanya, entah kenapa tanpa sengaja mie yang masih panas tumpah pas jatuh dikakinya Dev. Bisa dibayangkan gimana histerisnya Dev saat itu. Menangis meraung-raung sejadi-jadinya, dengan segala cara dilakukan agar menghentikan tangisnya tetap saja tidak bisa menghentikan, makin membuat mamanya bingung. Kalau sudah begitu sudah bisa ditebak bakal muncul deh manjanya, semua minta dilayanin, makan minum minta disuapin terus mintanya digendong melulu tidak mau jalan sendiri alasannya kakinya sakit.

Kalau sudah begini Dev benar-benar memanfaatkan situasi, ada alasan untuk ngerjain ortunya. Mungkin dalam pikirnya kapan lagi kalau tidak sekarang. Karena walaupun Devon anak satu-satunya kami tidak mengistimewakannya, tetap diajari menjadi anak yang mandiri tidak cengeng dan selalu ketergantungan pada ortu.

Kebetulan besok siangnya hari minggu kami sudah ada janjian sama tukang AC yang hendak maintenance dan mengisi freon. Aku bilang "Devon kan kakinya sakit jadi besok dikamar aja ya biar Om tukang AC betulin sendiri Devon gak usah ikut lihat" Mendengar kata itu spontan dia berpikir dan tidak lama dia minta turun dari gendonganku seraya berucap "Papa.. liat nih sekarang kaki Devon sudah sembuh, sudah bisa jalan lagi, jadi besok boleh kan lihat Om tukang AC kan? kata dia merajuk.

Tak urung membuat kami orang tuanya terkekeh dalam hati, padahal satu jam lalu dia masih menangis meraung-raung. Oalaaah Devon ternyata rasa sakitmu kau lawan sendiri hanya karena ingin melihat tukang AC beraksi.

Pesan moralnya adalah seseorang akan berjuang melawan rasa sakitnya sendiri jika ingin mendapatkan sesuatu yang dia sukai. Bagaimana dengan sahabat Indara ?

Salam Inovatif...



Budhi Insan

Jadi Bumerang

Jangan pernah bersikap gegabah didepan anak-anak  karena bisa jadi bumerang bagi diri sendiri. Itu mungkin kalimat yang tepat untuk menggambarkan kejadian yang dialami Devon dengan mamanya saat masih usia balita dulu. Disuatu siang kulihat Devon dengan tergopoh-gopoh berlari dari teras menghampiriku. Sembari menangis terisak-isak dia berkata padaku

"Papa...! Mama itu pa..., Devon takut"
"Takut kenapa nak" Jawabku agak kaget
Devon masih menangis sambil menyebut mamanya.
"Ada apa nak, dimarahi mama? tanyaku sedikit penasaran
Devon menggeleng masih sambil nangis
"Devon ditakut-takutin sama mama?"
Devon masih tetap menggelengkan kepala sambil menangis
"Ayo diam dulu nangisnya, terus cerita ke papa"
Devon menghentikan tangisnya dan berusaha menata nafasnya yang terisak dan tak lama kemudian dia berkata
"Devon takut mama masuk neraka dan dibakar sama Allah" Jawab devon masih dengan nafas yang belum stabil.
Hah..!! lho memangnya kenapa dengan mama? tanyaku menutupi rasa kaget.
"Tadi Devon liat mama mengambil buah belimbing dirumah Nenek tanpa minta izin sama Nenek"
Terus?
"Mama pernah bilang mengambil barang milik orang tanpa ijin namanya mencuri, mencuri itu dosa dan orang berdosa akan dibakar di neraka" ujar Devon polos.
"Itu kan belimbing neneknya Devon?" 
"Iya, tapi waktu mama ngambil kan tidak bilang nenek, itu namanya mencuri"
"Subhanallah, Devon anak shalih yang pinter, coba nanti kita tanyakan ke mama ya nak"
Devonpun mengangguk lega.

Dari sedikit percakapan diatas cukup menjadi gambaran bahwa nasehat dan apa saja yang disampaikan orang tua kepada anak akan melekat kuat dalam memorinya, dan anakpun akan memprotes apabila orang tua dirasa tidak konsisten dengan ucapannya. Pengalaman yang sepertinya sepele bagi orang tua akan berdampak besar bagi anak.


Usut punya usut, setelah aku tanyakan ke mamanya ternyata dihari sebelumnya sudah meminta izin pada neneknya. Tetapi seorang anak pola berpikirnya masih sangat sederhana yang dia pikirkan adalah apa yang tampak didepan matanya. Kebetulan mamanya mengambil buah belimbing tanpa ada neneknya, dengan tanpa ada neneknya bagi Devon dianggapnya mamanya sudah mencuri. Devon baru bisa menerima setelah dijelaskan sama neneknya.

Sedikit pengalaman ini cukup menjadi pukulan telak bagi diri sendiri agar tidak gegabah dan sembrono bersikap didepan anak-anak, karena anak selalu merekam didalam memorinya apa yang didengar dan dilihatnya tanpa menganalisa lebih jauh karena memang belum mampu untuk menganalisanya. Kemudian memprotesnya dengan caranya sendiri terhadap apa yang tidak sesuai dengan logikanya.

Semoga kejadian ini menjadi pelajaran kita semua, khususnya yang memiliki putra-putri usia balita.

Salam Kreatif


Budhi Insan

Buka Toko Sendiri

Tahukah sahabat, kalau dulu Devon punya toko sendiri. Selain jadi owner juga jadi manager pemasaran juga. Waauw keren kan. Tapi bukan toko sebangsa mini market atau toko toserba loh, nah ini deh ceritanya.

Seperti biasa jika menjelang liburan Devon sudah merancang kegiatan untuk mengisi liburan, biasanya sih diisi kegiatan seputar otak-atik elektro. Seperti yang dilakukan Devon menjelang liburan klas IV dulu. Dia sudah jauh-jauh hari menyiapkan barang-barang yang diperlukan plus nominal harga yang harus dibelinya. Setelah dihitung-hitung ternyata uang jajan yang dikumpulkan masih kurang. Mulailah dia memutar otak mencari ide.

Sepulang dari disuruh mamanya belanja ditoko dekat rumah buru-buru nyamperin papanya sembari berteriak "Pa.., Devon punya ide !!". Dia bilang uangnya mau dibelanjakan barang-barang kebutuhan dapur dan keluarga seperti gula, kopi, sabun, pencuci piring dsb, dan ujung-ujungnya minta dianterin di agen terdekat.


Hah..!! kaget juga dengernya, kenapa ini anak cepat banget berubah pikirannya, padahal tadinya sudah ngotot mau beli kabel dan lainnya. Eh ternyata baru tahu kalau barang yang dibeli mau dijual lagi ke mamanya.. Oh alaaaahhh. Rupanya Devon melihat peluang untuk mendapat uang dari berjualan ke mamanya. Karena hampir tiap hari Devon yang bantuin mamanya beli belanjaan di toko dekat rumah.
 

Dipikir-pikir boleh juga idenya, tidak masalah walau harganya sedikit lebih mahal toh keuntungan yang didapat untuk keperluan positif sekaligus mendidik anak untuk belajar mandiri dan menghargai uang. Sebagai orang tuanya rasanya trenyuh melihat kemauan dan semangat Devon untuk mendapatkan uang tanpa mau merepotkan orang tuanya. Tak terasa bulir-bulir air mata perlahan mengalir di pipi apalagi ketika dia bilang jika nanti uangnya untuk belanja kurang pinjem uang papa, nanti kalau barangnya habis dikembalikan.

Dengan semangat Devon melabel harga satu-persatu dan dipajang rapi dimeja kamarnya. disebelahnya ada tulisan "Toko Devondia Sejahtera" dan di bawahnya ada tambahan "Boleh ambil sendiri barangnya, tapi jangan lupa tinggalkan uang dilaci". Tak urung membuat mamanya senyum-senyum sendiri melihat cara Devon mendapatkan uang. Sepulang sekolah biasanya Devon ngecek barang dagangannya sambil menghitung keuntungannya. Sayangnya photo-photo dokumen Devon banyak lenyap bersama hardisk yang jebol dulu.

Lagi sibuk bikin gedung
Sampai akhirnya barang dagangannya habis dia mendapat keuntungan yang cukup untuk membeli alat-alat keperluannya dan bisa mengembalikan pinjamannya. Tapi tak urung akhirnya sebagian uang yang dipinjam juga disumbangkan untuk tambahan dia. Tapi yang terpenting sudah memberikan pelajaran pada dia bagaimana perjuangan untuk mendapatkan uang. Agar bisa bertanggung jawab atas uang hasil jerih payahnya.

Alhamdulillah akhirnya Liburan bisa diisi dengan membuat rancangan miniatur kota dengan kerlap-kerlip lampu dijalanan yang dibuat dari lampu lite, kemudian pembangkit tenaga listriknya atau generator dibuat dari dinamo yang diberi baling-baling yang dialirkan dari listrik yang diberi adaptor. Untuk rumah dan gedungnya dibuat dari kardus bekas. Memang dari segi hasilnya tidaklah sebagus maket yang ada dikantor-kantor Developer tetapi yang harus diapresiasi adalah ide, kreatifitas dan perjuangan untuk menciptakan karyanya itu

Salam Kreatif



 
Budhi Insan

Mengiringi Perkembangan Anak

Ah rasanya seperti baru kemaren aku menimang-nimang Devon sambil sesekali menikmati gelak tawanya yang memecahkan kesunyian suasana dirumah. Dev selalu dekat dengan kedua orang tuanya aku memang tidak bisa jauh dari Dev karena aku ingin bisa mengikuti perkembangan dari balita hingga saat ini diusianya menjelang remaja. Banyak pengalaman yang tak terlupakan dikebersamaanku.

Diusia selapan atau 36  hari pengalaman pertamaku sukses memandikan Dev. Sejujurnya ini karena kepepet. Awal ceritanya karena mamanya ada urusan mendadak yang harus diselesaikan. Kalau menyuapin dan memberi susu tambahan sih sudah biasa tapi kalau harus mandiin bayi usia sebulan yang masih rapuh masih mikir dua kali. Tapi kasihan juga kalau tidak dimandiin sedangkan kalau menunggu mamanya pulang juga belum tahu kepastiannya. Dengan modal nekad dan melihat keseharian mamanya akhirnya aku sukses mandiin memasang gurita hingga mbedhongnya.


Saat kecil Devon memang terkenal dengan keusilannya. Berbagai keusilannya sudah saya ceritakan disini. Keusilan lain yang hampir fatal yaitu disore hari Dev ikut mencuci motor. Seperti biasanya setelah selesai mencuci motor mesin kunyalakan untuk memanaskan mesin. Tanpa sepengetahuanku Dev mengambil selang air dimasukin kenalpot kemudian lubang satunya dimasukin dibak yang diisi air. Memang kelihatannya menarik dari air itu keluar gelembung udara dari asap knalpot. Dan tak lama kulihat Dev jalannya terhuyung-huyung dan jatuh, ternyata akibat kebanyakan menghirup udara dari kenalpot Dev menjadi pusing dan pingsan. Untung setelah aku beri bantuan pernapasan Dev siuman kembali. Aduh Devon bikin jantung ortu serasa hampir copot aja.

Dari kecil Dev tergolong anak yang pemberani dan tidak punya rasa takut dan jijik dengan berbagai jenis binatang. Tapi  dibalik keberaniannya ada satu binatang yang bisa membuatnya lari terbirit-birit bahkan bisa teriak histeris yaitu jika melihat kecoa. Awal kejadiannya disuatu sore setelah mandi Dev minta jalan-jalan, pas mau berangkat mendadak telpon dirumah berdering. Aku mengangkat telpon sementara Dev berjalan keteras. belum lama bicara ditelpon aku dkejutkan tangisan histeris si Dev. Sepontan kulepaskan telpon dan berlari menghampirinya. Ah ternyata ada kecoa terbang dan hinggap tepat didadanya. Sejak itulah Dev seperti pobhia dengan kecoa.

Ketika Dev sudah makin gede keusilannya sudah berbeda, tidak lagi mainan selang air tapi Dev bisa merekayasa barang-barang elektronik dirumah dibuat seolah seperti sedang rusak bahkan kadang sengaja dirusak demi untuk bisa membongkarnya dan melihat daleman elektronik agar bisa mengetahui system kerja mesinnya. Kemudian dianalisa dan dipraktikkannya.

Tapi Alhamdulillah buah dari keusilan Dev dulu bisa bermanfaat untuk perkembangan perbendaharaan ilmu pengetahuannya. Sekarang jika ada AC, TV, Komputer yang rusak tidak perlu ngeluarin banyak duit untuk panggil service, Dev dengan sigap akan turun tangan membetulkannya. Apabila memang sudah mentok dan Dev nyerah baru panggil orang.

Kenakalan dan keusilan anak-anak itu hal yang wajar, semua karena rasa keingin tahuannya yang kuat. Jangan disikapi sebagai sebuah kenakalan tetapi sebagai proses pembelajaran si anak. Semua perlu pengorbanan tapi ilmu yang didapat si anak harganya jauh lebih mahal dibanding barang-barang yang sudah dirusakannya. Biarkan anak tumbuh menjadi anak yang kreatif, inovatif dan bisa berkreasi sesuai perkembangan usianya.

Salam kreatif 

       
Budhi Insan

Kalau Bisa Lembut, Kenapa Harus Keras


Tulisan ini sebenarnya sudah diposting di Media Robbani kira-kira setahun lalu tapi tidak ada salahnya jika diposting ulang disini, karena tulisan ini bercerita tentang Devon. Dan blog inilah tempat merekam jejak perjalanan Devon. Semoga tulisan usang ini tetap bisa memberi manfaat bagi pembaca, khususnya para orang tua dan pendidik.

Sore itu saya sedikit terkejut ketika pulang kantor melihat anakku hanya terdiam dikamar, tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu ceria menyambut ayahnya pulang dengan cerita-ceritanya yang seolah tiada habisnya. Akhir-akhir ini dia sering menceritakan seputar teman-temannya yang baru, kebetulan dia baru masuk sekolah baru, tapi entah kenapa sore ini cerita-cerita itu tidak lagi menyambut kedatangan ayahnya. 

“Ah mungkin dia lagi capek sekolah dengan pelajaran barunya”, gumanku dalam hati menepis kecurigaan.

Tapi tidak lama setelah tas kerja dan sepatu kulepas dia menghampiriku dengan mata sedikit berkaca dan kalimat terbata-bata meminta padaku untuk pindah sekolah. “Ada apa ini ?” kataku dalam hati. Kuredam tangis anakku dengan senyum dan belaian rambutnya. 


Setelah selesai mandi dan sholat maghrib berjamaah, lagi-lagi anakku memintaku untuk memindahkan sekolah kesekolah Islam full day dengan alasan lebih dekat dari rumah dan banyak temannya di sana, ah sungguh aneh!!. Padahal kemaren-kemaren dia semangat sekali disekolah barunya di salah satu SMPN Surabaya, ketika kutanya kenapa minta pindah sekolah, dia hanya mengatakan “Ingin lebih dekat dari rumah”, tetapi sepertinya ada sesuatu masalah yang disembunyikannya. 

Dengan perlahan aku tanya padanya. 

Hayo adik harus jujur dan terus terang sama papa, agar masalahnya bisa diselesaikan", dia diam menundukkan kepala seolah ada yang ingin disampaikan tapi ditahan.

Sekali lagi kutanya "ada masalah apa dik..? hayo cerita, agar papa bisa membantu", dengan mata masih berkaca-kaca dia menceritakan bahwa tadi siang dia disuruh gurunya untuk memotong rambutnya.

“Loh bukannya dua hari lalu adik sudah potong rambutnya..? apa adik tidak cerita..?”

“Devon tidak diberi kesempatan untuk cerita, Pak Guru langsung potong rambutku lantas pergi”.  Jawabnya masih dengan agak terbata

“Kalau cuman disuruh potong rambut aja kenapa adik mesti nangis dan minta pindah sekolah..? tanyaku menyelidik.

“Tadi Pak guru menyuruhnya sambil membentak”, kata dia mengadu. 

“Ya sudah nanti dianterin potong rambut lagi”, kataku untuk meredam hatinya.

Mungkin Devon tidak terbiasa dengan suara yang berintonasi agak tinggi, karena sejak kecil dari KBIT, TKIT sampai SDIT hampir tidak ada suara dari ustadz dan ustadzahnya yang berintonasi tinggi. Devon agak sedikit kaget dan shock dengan perubahan tersebut, akhirnya sebagai orang tua saya berusaha menenangkan kegelisahannya dengan kata-kata yang klasik 

Itu karena Pak Guru sayang Devon, supaya Devon kelihatan rapi dan ganteng”.

Dari sedikit cerita ini bisa disimpulkan bahwa si Devon belum siap dengan perubahan dari guru-gurunya yang dulu lembut, kasih sayang serta pendekatannya sebagai teman, dengan gurunya sekarang yang menerapkan kedisiplinan dengan style yang lebih streng,  Saya pernah membaca sebuah buku karya dua orang ulama besar, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), secara garis besarnya ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.

Pertama adalah melalui Qudwah (Keteladanan)
Kedua adalah dengan Aadah (Pembiasaan)
Ketiga adalah melalui Pemberian Mau’izhoh (Nasehat)
Keempat dengan melaksanakan Mulahazhoh (Mekanisme Kontrol)
Kelima dengan Uqubah (Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi)

Tidak ada yang salah memang dengan guru-gurunya yang dulu ataupun yang sekarang, mungkin proses adaptasi yang perlu dilakukan oleh si anak agar terbiasa menghadapi situasi yang baru, hanya barangkali pendekatan dengan cara persuasif berupa nasehat dan contoh yang baik akan lebih bisa diterima oleh si anak daripada harus dengan membentak, karena menurut hemat saya masa anak-anak adalah titik dasar pembentukan karakter dan kepribadian, dan orang tua ataupun pendidik merupakan panutan dari seluruh perilaku dan karakter yang akan direkam dan dicontoh oleh anak atau anak didiknya.

Tapi entahlah setiap orang punya cara dan persepsi sendiri-sendiri dalam melakukan pendekatan terhadap anak-anak ataupun anak didik, Pembacapun insya Allah juga punya cara sendiri cara mengekspresikan terhadap anak-anak.  

~silahkan di share di kolom komentar ~


Budhi Insan

Makin Banyak Pengunjungnya

Siapa sangka jika blognya Devon makin hari makin banyak pengunjungnya, sekarang perharinya sudah mencapai angka 500. Untuk sahabat blogger pageView segitu memang bukan apa-apa tapi untuk bogger pemula seperti Devon dan Media Techno tentu sudah cukup baik. Lagian blognya baru dibuat dan posting pertama bulan Oktober 2012, kira-kira usia blog masih enam bulan. 

Aku masih ingat ketika Devon bersorak kegirangan setengah tidak percaya saat diawal-awal ada yang mengunjungi blognya. Rata-rata waktu itu perharinya tidak lebih dari sepuluh orang pengunjung. Selain girang Devon juga sempat ciut nyali kalau-kalau nanti ada yang mengkritik dan mencelanya. "Kalau benar mengapa takut dikritik Von?"

Media Techno
Devon memang belum punya banyak pengalaman dalam dunia perbloggeran apalagi perihal tutorial, template dan lain sebagainya. Pada awalnya dia lebih suka mendownload artikel-artikel yang penuh rumus-rumus kemudian dikumpulkan menjadi  satu buku dan dipelajari dengan serius. Wah ngelihat bukunya bikin pusing kepala ini.

Buku kumpulan artikel Dev

Aku pikir agar hasil pembelajarannya tidak mubadzir dan hilang dari memori kusarankan untuk diposting diblog, sekalian sambil belajar lagi juga bisa bermanfaat bagi orang lain. Apalagi disebuah diskusi lewat chat YM Uncle Lozzakbar yang terkenal dekat dengan anak-anak juga mendukung ideku. Maka jadilah blog Media Techno ini. Inilah salah satu dukungan dari Uncle Lozz dan Bunda Lahfy

dukungan Uncle Lozz & Bunda Lahfy
Dengan setengah hati Devonpun memulai menulis di blog. Tapi jangan berpikir tulisan Devon seperti tulisan para blogger senior yang sudah ahli, tulisannya sangat sederhana masih banyak kekurangan terutama dalam hal pemilihan kosa-kata dan tanda baca. Maklumlah Devon memang bukan penulis yang penting sudah mau menuangkan hasil pemikirannya lewat postingan sudah bagus.  Nanti dengan berjalannya waktu insya Allah Devon akan belajar juga.

Nah Dengan semakin banyak pengunjungnya semoga membuat Devon lebih rajin belajar dan mengulas hal-hal yang berhubungan dengan Tehnology agar lebih banyak memberi manfaat kepada pembaca blog ini. 

Aamiin Ya Robb..




Budhi Insan

Kekuatan Doa Ibu

Membaca posting dari blognya mbak Niken Kusumowardhani yang judulnya "Menghadapi Ujian Nasional" jadi tergelitik untuk ikut share tentang pengalaman menemani Devon menghadapi UN waktu di SD dulu. Sejujurnya Devon bukan anak yang hebat akan tetapi dia bersandar pada yang Maha Hebat.

Seperti kebanyakan disekolah lain beberapa hari menjelang UN kami sebagai orang tua dan wali murid diundang sekolah untuk menghadiri doa bersama dikhususkan untuk anak-anak kami yang akan menghadapi UN. Acara dimulai ba'da maghrib setelah sholat maghrib berjamaah. Acara dimulai dengan pembacaan gema wahyu Illahi yang diteruskan dengan sambutan kepala sekolah dan tauziah dari ustad kemudian dilanjut dengan doa bersama.

Setelah doa bersama, ustad dan ustadzahnya meminta anak-anak sungkem, minta maaf dan mohon didoakan orang tua masing-masing agar diberi kemudahan menghadapi UN. Kulihat teman-teman Devon sungkem dan mohon maaf pada orang tuanya masing sambil menangis bahkan tidak sedikit yang sampai sesenggukan. Tapi sungguh aneh pemandangan yang kulihat didepan mataku, sedikitpun tidak ada tanda-tanda Devon hendak menangis malah dia celingak-celinguk melihat temannya yang sedang menangis dengan pandangan heran. Ah Devon... Devon kamu memang anak yang aneh...!!

Akhirnya Saat Ujianpun tiba. dimulai pukul 08.00 hingga 10.0p0 WIB.  ada ritual unik yang dilakukan Devon saat menghadapi ujian tersebut. Selain belajar dan berdoa tidak lupa Devon juga mewanti-wanti mamanya untuk ikut mendoakannya. Bukan itu saja, pada jam yang sama dengan ujian, Devon minta mamanya untuk sholat hajat, berdoa dan berdzikir. Cara itu terbukti ampuh karena kekuatan doa seorang ibu sungguh luar biasa. Karena doa yang paling ikhlas adalah doa orang tua (terutama ibu) kepada anaknya. 

Mungkin itu hal terlihat sepele tapi untuk para orang tua khususnya ibu-ibu yang mempunyai anak masih dalam tarap belajar dan menghadapi ujian cara itu bisa dilakukan. Dan satu hal yang tidak kalah luar biasanya adalah biasakan orang tua mengirimkan fadhilah Al fathihah untuk putra-putrinya. Waktunya bisa dilakukan pada saat putra-putrinya sedang terlelap dalam tidurnya. Memang tidak ada dalil spesifik yang menjelaskan cara itu, tapi tidak diharamkan jika kita mengirimkan doa berupa Al Fathihah kepada putra-putrinya.

Selain faktor non tehnis itu ada juga hal-hal pendukung yang bisa menambah konsentrasi sang anak.  Usahakan sebelum berangkat anak sudah sarapan secukupnya, anak jangan diperdengarkan suara ataupun pembicaraan kasar yang membuatnya badmood kemudian antarkan datang kesekolah lebih awal (jangan sampai anak datang terburu-buru yang berakibat kacau konsentrasinya). Dengan datang lebih awal sang anak pikirannya bisa lebih tenang dan fresh.
 
Saat Prosesi Wisuda
Alhamdulillah Devon bisa menghadapi ujian dengan lancar dan bisa lulus dengan nilai ujian yang melebihi ekspektasi orang tuanya. Untuk bisa menjadi hebat maka harus dekat dan mengenal pada yang Maha Hebat, untuk bisa pandai harus meminta bantuan kepada yang Maha Pandai. Insya Allah cahaya-Nya yang terang benderang akan menerangi kegelapan hati  dan pikirannya. 

Semoga Bermanfaat...


Budhi Insan

Merakit Komputer

Sudah seminggu lebih PC nganggur karena error. Sudah dicoba berkali-kali dibetulin tapi hasilnya tetap nihil. Karena sudah agak jadul untuk mencari spare parts cukup sulit bahkan jika mau harus rela keliling di Hi-Tech Mall. Jumat itu kebetulan tanggal merah, sehabis sholat jumat berdua sama Devon meluncur ke Hi-Tech Mall. Tiga lantai sudah dikelilingin tapi tidak juga mendapatkan barang yang dicari. Mungkin karena hari itu tanggal merah banyak toko atau counter yang tutup.

Singkat kata setelah capek keluar-masuk counter maka di counter terakhir iseng aku menanyakan harga satu set CPU. Setelah diitung-itungnya jatuhnya kurang lebih sekitar dua jutaan. Mikir juga sih. Karena dana untuk beli CPU tidak ada dalam APBD alias Anggaran Pendapatan dan Belanja Dirumah maka dengan berat hati harus melupakan CPU tersebut sambil berharap bisa mendapatkan barang yang kucari

Hi-Tech Mall
Sebelum pulang kami istirahat sejenak sambil minum softdrink dilantai dasar. Tiba-tiba Devon nyeletuk. "Pa..., Devon punya ide, gimana kalau kita beli motherboard, processor sama RAM nya saja lainnya kan masih bisa pakai yang lama". Betul juga sih, tapi siapa yang bisa pasang nantinya. Setelah Devon yakin bisa memasangnya kitapun naik kelantai dua untuk hunting barang dengan harga yang murah. Akhirnya mendapat harga Rp. 545. 000,- . Ah lumayan bisa menghemat pengeluaran.

Sampai dirumah tanpa tunggu komando langsung Devon ngoprek-ngoprek PC dan tidak butuh waktu lama PC sudah siap. Untuk hardware sudah tidak ada masalah tapi untuk software dia mulai agak kesulitan karena dia belum banyak pengalaman tentang program dan software yang dibutuhkan. Setelah dipandu sebentar akhirnya semua berjalan lancar.  Dengan Rp 545 ribu PC jadi baru lagi dan lebih canggih lagi.

Bongkar Pasang CPU
 Ternyata tanpa sepengetahuanku Devon suka bongkar-bongkar PC yang sudah tidak terpakai untuk belajar sendiri. Pantas cara dia merakitnya sudah seperti orang yang paham banget tentang PC.  Terimakasih nak akhirnya papa akan bisa kembali eksis bewe ke blognya teman-teman blogger.

Serius menginstal program
 Hikmah yang bisa dipetik dari cerita ini adalah jangan dicegah putra-putri kita bongkar-bongkar barang yang sudah tidak terpakai karena dari situlah dia belajar cara memperbaikinya atau minimal bisa tahu cara bongkar pasangnya. Jangan takut kotor terhadap anak-anak, karena kotoran bisa dihilangkan sedangkan ilmu akan melekat kuat dalam memory anak-anak.


Salam...



Budhi Insan

Merancang Acara Liburan

Sudah menjadi kebiasaan jika liburan si Devon sudah merancang berbagai acara. Bukan acara melancong melainkan acara untuk membenahi barang-barang yang rusak dan yang setengah rusak untuk di utak-atik agar bisa berfungsi lagi.

Minggu kemaren kebetulan mendadak TV hilang gambarnya apa mungkin karena petir. Mulailah dia ambil obeng, solder dan alat-alat lainnya, tadinya was-was juga ini mau dibetulkan atau sekedar dijadikan sarana belajar. Ya sudahlah mudah-mudahan berhasil. kalau untuk betulkan hardware di kompi sih sudah sering apalagi kalau untuk oprek-oprek outdoor dan indoornya AC sudah hapal banget dia. Lha ini yang di bongkar TV yang sebelumnya dia belum pernah tangani.
 
Ya sudahlah kalau memang makin rusak berarti harus panggil tukang service tapi kalau bisa dibetulin Devon berarti bisa irit cost pengeluaran. Setelah dibuka dan dilihat dengan detail dan dianalisa. Begitulah cara kerja Devon dilihat dianalisa baru dikerjakan. Setelah beberapa saat utak-atik dan Byaarr..!! gambarnya muncul lagi setelah ditest, entah apa tadi kerusakannya sekilas yang kulihat dia asyik dengan soldernya. Keanehan Devon itu kalau kerjakan sesuatu paling tidak suka ditunggu. 

Betulin Televisi
Yah Alhamdulillah uang untuk ongkos Service bisa dialokasikan yang lain, maklum untuk sekarang ini pengeluaran harus lebih selektif dan dalam hati ku berucap "Alhamdulillah beruntungnya punya anak yang bisa bantu betulin alat-alat elektronik dan bisa meringankan beban pengeluaran.

Terimakasih Devon... ^ ^
Budhi Insan

Pengorbanan Berbagi


Sore itu kulihat si Devon mondar-mandir didepanku yang lagi membaca, dari gelagatnya seperti ada yang mau disampaikan tapi masih ragu. Kubiarkan dia dengan kegelisahannya. Dengan berlagak sedikit cuek kuperhatikan gerak-geriknya. Tak lama kemudian dia duduk disebelahku. Dalam hatiku berkata pasti ini ada maunya, dengan masih berlagak cuek kulanjutkan membacaku.

“Papa, boleh mengganggu sebentar” pintanya lirih

“Pa.., Papa punya uang tidak?”  tambahnya sambil memohon.

“Uang untuk apa ?”  jawabku masih dengan berlagak cuek

“Ini loh Pa, kan bentar lagi ada lebaran kurban, Devon patungan sama teman-teman untuk beli kambing, tapi uang Devon masih kurang, please bantu Devon ya Pa, lima puluh ribu rupiah aja”. 

“Emangnya Berapa'an patungannya?” Tanyaku

“Seratus ribu Pa”

“Kapan Devon mau belinya?”

“Insya Allah tanggal 23 oktober Pa, kebetulan didekat sekolah ada yang jual kambing”

“Ya Insya Allah nanti dikasih deh, kalau memang beneran untuk kurban”

“Alhamdulillah..., terimakasih pa” ucap Devon sambil mencium tanganku sembari berlari kekamar. Dari dalam kamar lamat-lamat terdengar Devon tengah menelpon temannya untuk merencanakan pembelian kambing tersebut.



Alhamdulillah jika Devon masih punya kepedulian untuk sedikit berbagi kepada yang membutuhkan, walau dia harus menyisihkan uang sakunya untuk dikumpulkan. Dari kecil sejak dari TKIT Devon diajari untuk mempunyai kepedulian terhadap orang lain yang lebih membutuhkan. Bukan dilihat dari berapa dan apa yang dibagikan kepada orang lain, tapi niat dan kemauan untuk berbagi itu yang harus ditumbuh kembangkan dalam diri anak-anak.


Untuk Orang tua semua, yuk kita bantu agar anak-anak kita bisa merasa senang dan enjoy untuk berbagi kepada sesama, jangan pandang nilai nominalnya tapi sudah ada kemauan saja sudah menjadi nilai plus bagi putra-putri kita. Biarkan anak-anak kita berkreasi dengan cara mereka, yang penting sebagai orang tua memberi pengawasan dan mensuport jika memang mengandung kemaslahatan, sambil memberikan rasa tanggung jawab kepada mereka.

Dalam hati ada kebahagiaan melihat Devon masih mempertahankan nilai-nilai kebaikan yang telah diajarkan sejak kecil oleh ustadz dan ustadzahnya waktu di TKIT maupun SDIT dulu.  Karena membentuk seorang anak jauh lebih mudah dibandingkan yang sudah dewasa ataupun sudah tua.

Semoga Anak-anak kita kelak menjadi anak yang punya akhlak yang baik, taat pada Allah, agama dan taat pada orang tuanya.   Aamiin

Budhi Insan

Kenali Putra-putri Sendiri

Tepat tanggal  15 Agustus 13 tahun lalu terlahir seorang jabang bayi. Ketika sore beranjak malam suara tangisan bayi menyeruak diantara heningnya malam, sujud syukur kupersembahkan kepada sang Robb. Suatu kebahagiaan yang tak ternilai saat memandang wajah mungil nan suci hadir menjadi bagian keluargaku, sekaligus sebagai tali pengikat kasih sayang antara kami.

Dalam sekejab statusku telah berubah menjadi seorang ayah yang mempunyai tanggung jawab atas amanah dari-Nya. Sebagai rasa bahagia kakeknya menyematkan sebuah nama Devondia Difa Indara dan memanggilnya dengan panggilan Devon. Sungguh kehadirannya membuat dunia seakan berubah menjadi indah terang-benderang. Semangatpun bertambah berlipat-lipat.

Devon terlahir tidak terlalu besar bahkan kalau dibilang relative kecil dibanding bayi pada umumnya, dengan berat 2,75 kg memang tampak kecil. Tapi aku bersyukur Devon lahir dalam keadaan sehat tidak kekurangan apapun.


Devon kecil tidak punya keistimewaan apapun, tidak ada yang menonjol, hingga pada usia sekitar 3 tahun Devon punya keunikan tersendiri, setiap diberikan mainan tidak pernah bertahan lebih dua hari, setelah itu dibongkar dan dijadikan bahan eksperimen, dan yang aneh lagi setiap di swalayan yang diminta bukan lagi mainan atau mobil-mobilan melainkan obeng, kabel roll serta peralatan-peralatan lainnya.

Seperti anak-anak pada umumnya yang selalu ingin tahu maka Devonpun mengalami hal serupa bahkan keingintahuan Devon cenderung pada usil dan jail, kejailannya tidak jauh dari listrik dan electronic. Dari keusilannya kadang membuatku lebih ekstra mengawasinya. Suatu ketika aku ajak ke Mc Donald tiba-tiba sebagian lampu padam, ternyata ulah Devon yang mematikan saklar lampu disaat aku membayar dikasir. Juga ketika belanja di swalayan saat sedang antri di kasir tiba-tiba computer kasir mati, lagi-lagi Devon yang mematikan saklarnya dan banyak pengalaman yang cukup membuat wajah jadi merah padam menahan marah dan malu.


Ketertarikan yang berlebihan terhadap dunia electronic membuat Devon menjadi kurang fokus terhadap pelajarannya. Nilai pelajarannya makin lama makin menurun dan puncaknya ketika menjelang kenaikan kelas IV, Aku dipanggil kepala sekolahnya yang memberi peringatan agar Devon mendapat perhatian extra dalam pelajarannya dan mengurangi keusilan terhadap teman-temannya, jika dalam semester pertama tidak ada peningkatan maka Devon akan dikembalikan ke kelas III.

Berbagai metode belajar aku coba  agar pas buatnya, sampai akhirnya kuambil kesimpulan bahwa Devon adalah anak dengan type auditory. Yaitu type yang harus dengan cara mendengarkan penjelasan untuk memahaminya, type ini lebih suka segala sesuatunya dijelaskan dengan perkataan apalagi dengan gaya bercerita. Alhamdulillah Devon sendiri juga tahu akan kewajiban dan tuntutan agar nilainya bisa lebih baik. Progress Devon mulai tampak dan nilai pelajarannyapun meningkat yang cukup signifigkan. Bahkan nilai NEM kelas VI juga boleh dibilang cukup bagus.

Bersama Kakak Sepupu
Alhamdulillah dengan perjuangan yang pantang menyerah Devon bisa diterima di salah satu SMP Negeri di Surabaya. Yang lebih membanggakan lagi di SMP Devon bisa meraih prestasi sebagai salah satu penerima bea siswa. Peningkatan yang luar biasa sekali, dari yang terancam tidak naik kelas dan terancam turun kelas ternyata Devon mampu bangkit dari keterpurukannya. 

Demikian sedikit berkenalan dengan Devon, dari sedikit cerita diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa orang tua adalah orang yang paling tahu tentang sifat, karakter dan jenis anak-anaknya. Aku sangat yakin bahwa sebenarnya tidak ada anak yang bodoh yang ada hanya belum mendapat metode yang pas dalam belajar. Untuk itu kenali putra-putri anda apakah termasuk jenis 

  1. Visual: yaitu anak akan lebih mudah menyerap dan memahami sesuatu dengan cara melihat dan penglihatan. Type anak ini lebih suka membaca dan melihat gambar-gambar saat belajar

  2. Auditory: yaitu anak akan lebih mudah menyerap dan memahami sesuatu dengan cara mendengar dan pedengaran. Type anak ini lebih mudah menerima apabila disertai dengan cerita saat belajar

  3. Kinestetik: Anak dengan kemampuan belajar kinestetik tidak bisa hanya duduk tenang dan menunggu informasi disampaikan. Mereka lebih proaktif dan berusaha mencari hal-hal yang ingin mereka tahu tanpa harus selalu membaca buku panduan. Biasanya anak type ini tidak bisa duduk diam mendengar penjelasan dari guru, makanya anak seperti ini dianggap sebagai anak yang nakal


    Demikian sekilas tentang Devon, semoga bermanfaat.


    
logo
Copyright © 2012 Media Indara.
Blogger Template by Clairvo