separate
Media pencatat langkah kecilnya yang penuh kelucuan, keluguan, inovatif, kreatif dan segala tingkah usil dan kebandelannya
logo
Budhi Insan

Ingin Jadi Photographer

Beberapa hari lalu Devon merajuk minta dibelikan kamera sebagai hadiah kenaikan kelas, entah ada angin apa tiba-tiba dia tertarik pada dunia photography. Tapi aku tidak yakin jika Dev benar-benar mulai suka photography. Sebagai ayahnya aku tahu persis perkembangan kesukaan dan kemauannya. Jangan-jangan karena melihat teman-temannya jeprat-jepret dengan kamera membuatnya ingin mencoba.


Kuajak Dev jalan ke Hartono Elektronik tempat yang terdekat dari rumah. Kubiarkan dev melihat-lihat kamera dengan segala macam type, merek dan dengan harga yang bervariasi. Setelah lihat sana-sini dia memilih kamera DLSR dengan harga rata-rata diatas empat jutaan. Hmm... harga yang cukup membuatku mengernyitkan dahi, empat juta bukan nominal yang kecil bagiku.

Setelah melihat-lihat kuajak Devon duduk dikursi yang tempatnya agak diujung. Kutanyakan tentang tujuannya membeli kamera. Setelah bicara dari hati kehati ternyata benar dugaanku Dev hanya ingin sekedar jeprat-jepret seperti teman-temannya. Aduh nak bukannya papa pelit tidak mau belikan kamera tapi kalau sekedar untuk iseng-isengan rasanya sayang banget.

Dev memang anak satu-satunya tapi bukan berarti harus menuruti apa keinginannya. Sebagai orang tua harus mempertimbangkan baik buruk dampak bagi si anak. Jangan sampai nantinya Dev menjadi anak yang konsumtif dan tidak menghargai susahnya mencari uang. Selama ini aku memang hampir selalu menuruti permintaan Dev tapi yang berhubungan elektro dan listrik karena aku tahu persis minat dan bakatnya ada disitu dan memang layak untuk disuport.

Seperti biasanya selalu kuberi tantangan pada Dev. Kalau memang serius dan bisa menjadi photograper profesional papa tidak keberatan membelikan kamera itu sekalian lensa dan sarana pendukung lain tapi bila sekedar main-main mendingan lupakan saja, toh masih bisa jeprat-jepret dengan kamera blackberry. Dev diam, cukup lama dia berpikir, aku yakin dia tidak akan mengambil tantangan tersebut, karena aku tahu obsesi dan cita-citanya dari kecil bukan sebagai photographer tapi pada bidang electric dan electronic.

Tanpa memberi jawaban Dev langsung mengajak pulang dan dengan legowo dia melupakan keinginannya untuk memiliki kamera itu. Tapi tetap aja Dev tidak mau rugi sambil beranjak pulang masih minta dibelikan tang crimping, tahu kan tang crimping? itu loh alat untuk memotong kabel dan untuk memasang konektor ke kabel lan. 
Tang Crimping

Alhamdulillah akhirnya kami bisa menerima kesepakatan tanpa merasa ada ganjalan dihati.  Sebagai orang tua aku hanya bisa mengarahkan dan mensuport tanpa merasa mendikte. Anak tidak perlu dicegah dengan cara yang membabi buta cukup diajak berpikir dan diberi sedikit tantangan agar tahu seberapa keseriusannya.

Salam kreatif

Budhi Insan

Sudah Bisa Jalan Lagi

Tadinya tulisan ini mau diikutkan di GA yang temanya tentang kelucuan anak-anak balita, tapi berhubung sudah kepancal sepur, ya sudah di posting aja, sekalian update blog Media Indara 


Dari kecil Devon memang doyan makan dan Alhamdulillah hampir tidak pernah rewel kalau urusan makan. Tapi yang ingin aku ceritakan disini bukan tentang kedoyanan makannya tapi tentang kelucuan dan keusilan Dev tapi ada juga sedikit ada hubungannya sama makan.

Sore hari Dev minta dibuatkan mie instan sama mamanya, entah kenapa tanpa sengaja mie yang masih panas tumpah pas jatuh dikakinya Dev. Bisa dibayangkan gimana histerisnya Dev saat itu. Menangis meraung-raung sejadi-jadinya, dengan segala cara dilakukan agar menghentikan tangisnya tetap saja tidak bisa menghentikan, makin membuat mamanya bingung. Kalau sudah begitu sudah bisa ditebak bakal muncul deh manjanya, semua minta dilayanin, makan minum minta disuapin terus mintanya digendong melulu tidak mau jalan sendiri alasannya kakinya sakit.

Kalau sudah begini Dev benar-benar memanfaatkan situasi, ada alasan untuk ngerjain ortunya. Mungkin dalam pikirnya kapan lagi kalau tidak sekarang. Karena walaupun Devon anak satu-satunya kami tidak mengistimewakannya, tetap diajari menjadi anak yang mandiri tidak cengeng dan selalu ketergantungan pada ortu.

Kebetulan besok siangnya hari minggu kami sudah ada janjian sama tukang AC yang hendak maintenance dan mengisi freon. Aku bilang "Devon kan kakinya sakit jadi besok dikamar aja ya biar Om tukang AC betulin sendiri Devon gak usah ikut lihat" Mendengar kata itu spontan dia berpikir dan tidak lama dia minta turun dari gendonganku seraya berucap "Papa.. liat nih sekarang kaki Devon sudah sembuh, sudah bisa jalan lagi, jadi besok boleh kan lihat Om tukang AC kan? kata dia merajuk.

Tak urung membuat kami orang tuanya terkekeh dalam hati, padahal satu jam lalu dia masih menangis meraung-raung. Oalaaah Devon ternyata rasa sakitmu kau lawan sendiri hanya karena ingin melihat tukang AC beraksi.

Pesan moralnya adalah seseorang akan berjuang melawan rasa sakitnya sendiri jika ingin mendapatkan sesuatu yang dia sukai. Bagaimana dengan sahabat Indara ?

Salam Inovatif...



Budhi Insan

Jadi Bumerang

Jangan pernah bersikap gegabah didepan anak-anak  karena bisa jadi bumerang bagi diri sendiri. Itu mungkin kalimat yang tepat untuk menggambarkan kejadian yang dialami Devon dengan mamanya saat masih usia balita dulu. Disuatu siang kulihat Devon dengan tergopoh-gopoh berlari dari teras menghampiriku. Sembari menangis terisak-isak dia berkata padaku

"Papa...! Mama itu pa..., Devon takut"
"Takut kenapa nak" Jawabku agak kaget
Devon masih menangis sambil menyebut mamanya.
"Ada apa nak, dimarahi mama? tanyaku sedikit penasaran
Devon menggeleng masih sambil nangis
"Devon ditakut-takutin sama mama?"
Devon masih tetap menggelengkan kepala sambil menangis
"Ayo diam dulu nangisnya, terus cerita ke papa"
Devon menghentikan tangisnya dan berusaha menata nafasnya yang terisak dan tak lama kemudian dia berkata
"Devon takut mama masuk neraka dan dibakar sama Allah" Jawab devon masih dengan nafas yang belum stabil.
Hah..!! lho memangnya kenapa dengan mama? tanyaku menutupi rasa kaget.
"Tadi Devon liat mama mengambil buah belimbing dirumah Nenek tanpa minta izin sama Nenek"
Terus?
"Mama pernah bilang mengambil barang milik orang tanpa ijin namanya mencuri, mencuri itu dosa dan orang berdosa akan dibakar di neraka" ujar Devon polos.
"Itu kan belimbing neneknya Devon?" 
"Iya, tapi waktu mama ngambil kan tidak bilang nenek, itu namanya mencuri"
"Subhanallah, Devon anak shalih yang pinter, coba nanti kita tanyakan ke mama ya nak"
Devonpun mengangguk lega.

Dari sedikit percakapan diatas cukup menjadi gambaran bahwa nasehat dan apa saja yang disampaikan orang tua kepada anak akan melekat kuat dalam memorinya, dan anakpun akan memprotes apabila orang tua dirasa tidak konsisten dengan ucapannya. Pengalaman yang sepertinya sepele bagi orang tua akan berdampak besar bagi anak.


Usut punya usut, setelah aku tanyakan ke mamanya ternyata dihari sebelumnya sudah meminta izin pada neneknya. Tetapi seorang anak pola berpikirnya masih sangat sederhana yang dia pikirkan adalah apa yang tampak didepan matanya. Kebetulan mamanya mengambil buah belimbing tanpa ada neneknya, dengan tanpa ada neneknya bagi Devon dianggapnya mamanya sudah mencuri. Devon baru bisa menerima setelah dijelaskan sama neneknya.

Sedikit pengalaman ini cukup menjadi pukulan telak bagi diri sendiri agar tidak gegabah dan sembrono bersikap didepan anak-anak, karena anak selalu merekam didalam memorinya apa yang didengar dan dilihatnya tanpa menganalisa lebih jauh karena memang belum mampu untuk menganalisanya. Kemudian memprotesnya dengan caranya sendiri terhadap apa yang tidak sesuai dengan logikanya.

Semoga kejadian ini menjadi pelajaran kita semua, khususnya yang memiliki putra-putri usia balita.

Salam Kreatif


Budhi Insan

Buka Toko Sendiri

Tahukah sahabat, kalau dulu Devon punya toko sendiri. Selain jadi owner juga jadi manager pemasaran juga. Waauw keren kan. Tapi bukan toko sebangsa mini market atau toko toserba loh, nah ini deh ceritanya.

Seperti biasa jika menjelang liburan Devon sudah merancang kegiatan untuk mengisi liburan, biasanya sih diisi kegiatan seputar otak-atik elektro. Seperti yang dilakukan Devon menjelang liburan klas IV dulu. Dia sudah jauh-jauh hari menyiapkan barang-barang yang diperlukan plus nominal harga yang harus dibelinya. Setelah dihitung-hitung ternyata uang jajan yang dikumpulkan masih kurang. Mulailah dia memutar otak mencari ide.

Sepulang dari disuruh mamanya belanja ditoko dekat rumah buru-buru nyamperin papanya sembari berteriak "Pa.., Devon punya ide !!". Dia bilang uangnya mau dibelanjakan barang-barang kebutuhan dapur dan keluarga seperti gula, kopi, sabun, pencuci piring dsb, dan ujung-ujungnya minta dianterin di agen terdekat.


Hah..!! kaget juga dengernya, kenapa ini anak cepat banget berubah pikirannya, padahal tadinya sudah ngotot mau beli kabel dan lainnya. Eh ternyata baru tahu kalau barang yang dibeli mau dijual lagi ke mamanya.. Oh alaaaahhh. Rupanya Devon melihat peluang untuk mendapat uang dari berjualan ke mamanya. Karena hampir tiap hari Devon yang bantuin mamanya beli belanjaan di toko dekat rumah.
 

Dipikir-pikir boleh juga idenya, tidak masalah walau harganya sedikit lebih mahal toh keuntungan yang didapat untuk keperluan positif sekaligus mendidik anak untuk belajar mandiri dan menghargai uang. Sebagai orang tuanya rasanya trenyuh melihat kemauan dan semangat Devon untuk mendapatkan uang tanpa mau merepotkan orang tuanya. Tak terasa bulir-bulir air mata perlahan mengalir di pipi apalagi ketika dia bilang jika nanti uangnya untuk belanja kurang pinjem uang papa, nanti kalau barangnya habis dikembalikan.

Dengan semangat Devon melabel harga satu-persatu dan dipajang rapi dimeja kamarnya. disebelahnya ada tulisan "Toko Devondia Sejahtera" dan di bawahnya ada tambahan "Boleh ambil sendiri barangnya, tapi jangan lupa tinggalkan uang dilaci". Tak urung membuat mamanya senyum-senyum sendiri melihat cara Devon mendapatkan uang. Sepulang sekolah biasanya Devon ngecek barang dagangannya sambil menghitung keuntungannya. Sayangnya photo-photo dokumen Devon banyak lenyap bersama hardisk yang jebol dulu.

Lagi sibuk bikin gedung
Sampai akhirnya barang dagangannya habis dia mendapat keuntungan yang cukup untuk membeli alat-alat keperluannya dan bisa mengembalikan pinjamannya. Tapi tak urung akhirnya sebagian uang yang dipinjam juga disumbangkan untuk tambahan dia. Tapi yang terpenting sudah memberikan pelajaran pada dia bagaimana perjuangan untuk mendapatkan uang. Agar bisa bertanggung jawab atas uang hasil jerih payahnya.

Alhamdulillah akhirnya Liburan bisa diisi dengan membuat rancangan miniatur kota dengan kerlap-kerlip lampu dijalanan yang dibuat dari lampu lite, kemudian pembangkit tenaga listriknya atau generator dibuat dari dinamo yang diberi baling-baling yang dialirkan dari listrik yang diberi adaptor. Untuk rumah dan gedungnya dibuat dari kardus bekas. Memang dari segi hasilnya tidaklah sebagus maket yang ada dikantor-kantor Developer tetapi yang harus diapresiasi adalah ide, kreatifitas dan perjuangan untuk menciptakan karyanya itu

Salam Kreatif



 
Budhi Insan

Mengiringi Perkembangan Anak

Ah rasanya seperti baru kemaren aku menimang-nimang Devon sambil sesekali menikmati gelak tawanya yang memecahkan kesunyian suasana dirumah. Dev selalu dekat dengan kedua orang tuanya aku memang tidak bisa jauh dari Dev karena aku ingin bisa mengikuti perkembangan dari balita hingga saat ini diusianya menjelang remaja. Banyak pengalaman yang tak terlupakan dikebersamaanku.

Diusia selapan atau 36  hari pengalaman pertamaku sukses memandikan Dev. Sejujurnya ini karena kepepet. Awal ceritanya karena mamanya ada urusan mendadak yang harus diselesaikan. Kalau menyuapin dan memberi susu tambahan sih sudah biasa tapi kalau harus mandiin bayi usia sebulan yang masih rapuh masih mikir dua kali. Tapi kasihan juga kalau tidak dimandiin sedangkan kalau menunggu mamanya pulang juga belum tahu kepastiannya. Dengan modal nekad dan melihat keseharian mamanya akhirnya aku sukses mandiin memasang gurita hingga mbedhongnya.


Saat kecil Devon memang terkenal dengan keusilannya. Berbagai keusilannya sudah saya ceritakan disini. Keusilan lain yang hampir fatal yaitu disore hari Dev ikut mencuci motor. Seperti biasanya setelah selesai mencuci motor mesin kunyalakan untuk memanaskan mesin. Tanpa sepengetahuanku Dev mengambil selang air dimasukin kenalpot kemudian lubang satunya dimasukin dibak yang diisi air. Memang kelihatannya menarik dari air itu keluar gelembung udara dari asap knalpot. Dan tak lama kulihat Dev jalannya terhuyung-huyung dan jatuh, ternyata akibat kebanyakan menghirup udara dari kenalpot Dev menjadi pusing dan pingsan. Untung setelah aku beri bantuan pernapasan Dev siuman kembali. Aduh Devon bikin jantung ortu serasa hampir copot aja.

Dari kecil Dev tergolong anak yang pemberani dan tidak punya rasa takut dan jijik dengan berbagai jenis binatang. Tapi  dibalik keberaniannya ada satu binatang yang bisa membuatnya lari terbirit-birit bahkan bisa teriak histeris yaitu jika melihat kecoa. Awal kejadiannya disuatu sore setelah mandi Dev minta jalan-jalan, pas mau berangkat mendadak telpon dirumah berdering. Aku mengangkat telpon sementara Dev berjalan keteras. belum lama bicara ditelpon aku dkejutkan tangisan histeris si Dev. Sepontan kulepaskan telpon dan berlari menghampirinya. Ah ternyata ada kecoa terbang dan hinggap tepat didadanya. Sejak itulah Dev seperti pobhia dengan kecoa.

Ketika Dev sudah makin gede keusilannya sudah berbeda, tidak lagi mainan selang air tapi Dev bisa merekayasa barang-barang elektronik dirumah dibuat seolah seperti sedang rusak bahkan kadang sengaja dirusak demi untuk bisa membongkarnya dan melihat daleman elektronik agar bisa mengetahui system kerja mesinnya. Kemudian dianalisa dan dipraktikkannya.

Tapi Alhamdulillah buah dari keusilan Dev dulu bisa bermanfaat untuk perkembangan perbendaharaan ilmu pengetahuannya. Sekarang jika ada AC, TV, Komputer yang rusak tidak perlu ngeluarin banyak duit untuk panggil service, Dev dengan sigap akan turun tangan membetulkannya. Apabila memang sudah mentok dan Dev nyerah baru panggil orang.

Kenakalan dan keusilan anak-anak itu hal yang wajar, semua karena rasa keingin tahuannya yang kuat. Jangan disikapi sebagai sebuah kenakalan tetapi sebagai proses pembelajaran si anak. Semua perlu pengorbanan tapi ilmu yang didapat si anak harganya jauh lebih mahal dibanding barang-barang yang sudah dirusakannya. Biarkan anak tumbuh menjadi anak yang kreatif, inovatif dan bisa berkreasi sesuai perkembangan usianya.

Salam kreatif 

       
logo
Copyright © 2012 Media Indara.
Blogger Template by Clairvo